cover majalah astronomi

Artikel Edisi Ini

ANTARA VISIBILITAS HILAL DAN AWAL BULAN DALAM KALENDAR ISLAM

Oleh: DR. Moedji Raharto[1]

Sааt ini di Indonesiа, terdapat cukup banyak kelompok pengamat hilal diantaranya dari Departemen Agama, Departemen ΚomInfo, Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) maupun ormas Islam lainnya. Ѕemua ini menunjukkan antusiasme dan keseriusan dalam berpartisipasi pengamatan hilal di kawasan ekuator.

Peningkatan professionalisme dan sertifikasi pengamatan hilal nampaknya perlu dilakukan agar kesungguhan dalam pengamatan hilal bisa terwujud dan menjadi panutan Internasional. Hilal termuda atau Bulan sabit termuda yang masih bisa diamati dengan mata bugil setelah ijtimak/konjungsi masih merupakan objek buruan dalam penentuan awal Bulan Islam. Selain itu sebagian yang lain tertarik berburu Hilal termuda untuk dapat memecahkan prestasi pengamatan Hilal termuda yang pernah dicapai sebelumnya dan sebagian yang lain tertarik berburu Hilal untuk memperkaya dunia ilmu pengetahuan.

Sulitnya mendeteksi Hilal dengan mata bugil dikarenakan kedudukan Bulan berdekatan dengan Matahari dan terang Hilal terlalu lemah dibanding dengan terang angkasa Bumi yang menyebar cahaya Matahari.  Rentang dinamik terang Hilal dan terang langit tidak mudah dijangkau oleh mata manusia yang secara reflek pupil mata mengatur jumlah energi foton yang masuk pada retina. Pada saat langit terang difragma mengecil dan berarti makin sedikit foton cahaya Hilal yang sampai ke retina mata dan makin sulit untuk dikenali oleh mata manusia.

Untuk pengalaman praktis dapat dilakukan pengamatan Bulan kesiangan atau Bulan tua pada saat pagi sebelum Matahari terbit dan setelah Matahari terbit, makin tua umur Bulan makin sulit dikenali di langit walaupun pada saat Matahari belum terbit objek tersebut dengan mudah dikenal oleh mata bugil. Pengamatan sistematis akan memberi informasi telaah batas ambang visibilitas Hilal. Oleh karena itu pengamatan Hilal menunggu kesempatan meredupnya senja Bulan masih berada di atas ufuk/horizon. Pada saat meredupnya senja diafragma mata pengamat langit malam akan membesar.

Membesarnya diafragma mata berarti makin banyak foton dari cahaya Hilal yang bisa dikoleksi oleh lensa mata sehingga mempunyai kesempatan untuk bisa dikenali oleh mata manusia bila jumlah foton sudah melewati suatu batas ambang pengenalan objek.  Berapa batas ambang pengenalan objek oleh mata manusia yang normal?  Apakah batas ambang tersebut sama untuk semua manusia kalau tidak berapa besar deviasinya ?

Kesempatan untuk mengamatinya sangat singkat hanya beberapa menit setelah Matahari terbenam karena pada saat ijtimak kedudukan Bulan dan Matahari di langit sangat berdekatan. Kondisi kecerahan langit di dekat horizon umumnya relatif jelek dibanding dengan cuaca di dekat zenit. Hal ini dapat dimengerti karena arah pandang mata manusia ke horizon akan menembus lapisan angkasa Bumi yang lebih tebal dan berakibat lebih banyak mengamati ketidak stabilan angkasa. Awan tipis juga akan banyak menghadang arah pandang manusia ke objek langit di arah horizon.

Beberapa persaratan tentang keberhasilan dalam pengamatan Hilal diketahui dari pengalaman pengamatan Hilal dan pengetahuan yang bertautan dengan penampakan Hilal. Antara lain Bulan berada di atas horizon pengamat setelah Matahari terbenam, luas Hilal lebih dari 1%, tinggi Hilal lebih tinggi 4 derajat (sampai 10 derajat) bergantung pada beda azimut Bulan dan Matahari, makin dekat dengan Matahari semakin tinggi persaratan kedudukan Hilal pada saat Matahari terbenam agar memungkinkan bisa dilihat atau umur Bulan umumnya tidak kurang dari 14 jam setelah konjungsi. Persaratan itu ada yang masih perlu dikonfirmasi dan diuji di tempat lain, di Indonesia misalnya.  Koleksi catatan (yang benar, cermat dan lengkap) tentang keberhasilan, ketidak berhasilan atau keragu-raguan pengamatan Hilal merupakan informasi dasar yang sangat penting untuk menentukan analisa penentuan kriteria penampakan Hilal.

Hilal diamati dengan mata bugil manusia lewat jendela informasi visual. Mata bugil sebagai detektor mempunyai sensitivitas yang sama daerah visual, kecuali pada malam hari sensitivitas bergeser ke arah biru. Kontras Hilal terhadap latar depan langit senja sangat lemah.  Seberapa jauh kesanggupan mata sebagai detektor sanggup memilah cahaya Hilal dan cahaya senja?.

Daya tarik Hilal termuda atau Bulan tertua yang bisa diamati oleh mata bugil manusia. Menarik karena jarang sekali ditemui penampakannya.  Bagi pemerhati langit akan cepat sekali mengukur prestasi dan pengalamannya untuk bisa melihat tandan Bulan yang lebih tipis dari biasa yang pernah dilihatnya. Ada perasaan kepuasan dalam memecahkan rekord termuda. Akibat daya tarik ini kadang-kadang laporan pengamatan Hilal kurang akurat dan meragukan. Hal semacam ini tidak terjadi di Indonesia saja di luar negeri seperti di Inggris atau di Amerika bisa terjadi contoh tentang persoalan pengamatan Hilal di luar negeri bisa di lihat dalam Schaefer, Ahmad dan Dogget (1993).

Karena menarik perhatian banyak orang sehingga banyak yang berpartisipasi secara amatiran secara tidak sengaja dan lebih serius untuk mencari Hilal karena bisa memecahkan record yang pernah dicapai manusia sebelumnya. Dan juga para pemburu komet pada senja hari biasanya dengan tidak sengaja mengamati Bulan yang sangat tipis tersebut.

Pengamatan Hilal dengan mata bugil secara sistematis dan dibanyak tempat perlu dilakukan dan dibahas lebih komprehensif dan didiskusikan baik keberhasilan maupun ketidak berhasilannya. Upaya perbaikan dalam persiapan mental metodologi dan sebagainya perlu terus dikembangkan agar tradisi ini mempunyai makna bagi ilmu pengetahuan maupun bagi keperluan agama.

Pengujian batas ambang yang ditemukan Danjon(1930) kriteria penampakan Hilal yang telah diformulasikan dan keberhasilan yang luar biasa dibeberapa tempat seperti yang pernah dicapai oleh Julius Schmidt (Bulan 15.4 jam) dan Robert C. Victor (Bulan 13 jam 28 menit dapat dilihat dengan binokuler) perlu di uji di tempat yang berbeda seperti di Indonesia.

Begitupula pengujian keberhasilan pengamatan Hilal yang lebih sulit oleh team KACST dan Pepin (1996).  Hasil pengamatan tidak bisa segera dilihat. Pengamatan yang konsisten dalam jangka panjang akan mengumpulkan data yang berguna untuk mendeteksi pengaruh variasi musim terhadap visibilitas Hilal. Tujuan akhir untuk menyelesaikan atau memperkecil kontroversi dalam pengamatan Hilal termuda.

Pada tanggal 19 September 2009 secara umum di wilayah Indonesia Bulan terbenam beberapa menit setelah Matahari terbenam.  Di Pelabuhan Ratu misalnya pada tanggal 19 September 2009 Bulan terbenam pada jam 18:17 wib dan Matahari terbenam 26 menit sebelumnya yaitu pada jam 17:51 wib. Ijtimak berlangsung  16 jam 07 menit sebelum Matahari terbenam atau 16 jam 33 menit sebelum Bulan terbenam, (ijtimak jam 01:44 wib dan Matahari terbenam jam 17:51 wib). Pada tanggal 19 September 2009 tinggi Bulan mencapai 5 derajat 22 menit pada saat Matahari terbenam jam 17:51 wib dan luas sabit Bulan hampir mencapai 1%, sedang pada tanggal 20 September 2009 tinggi Bulan menjadi 17 derajat 41 menit (lebih dari 15 derajat) dan luas sabit bulan telah mencapai 4%.

Pemburu hilal di kota Semarang berhasil memperoleh citra hilal awal Syawal 1430 H pada tanggal 19 September 2009 dengan teleskop dan kamera CCD.  Usia sabit Bulan pada waktu Matahari terbenam sudah mencapai 16 jam dari waktu ijtimak. Pengamatan hilal termuda mempunyai usia 15 jam 33 menit. Berarti Hilal awal Syawal 1430 H (dengan usia 16 jam 07 menit) juga merupakan kandidat hilal muda dengan usia lebih tua hampir sejam dari  umur Hilal termuda (Pengamatan Pierce: 25 Februari 1990, pertama terlihat jam 23:55 UT)  di kawasan Indonesia. Jadi kesimpulan hilal awal Syawal 1430 H walaupun sulit masih mempunyai kemungkinan untuk bisa dirukyat dari wilayah Indonesia.  Bulan mempunyai posisi beda deklinasi lebih dari 5 derajat dari Matahari, jarak busur Bulan dan Matahari cukup besar dan berpeluang untuk bisa dirukyat. Namun realitas keberhasilan mendeteksi hilal awal Syawal 1430 H oleh astronom yang tergabung dalam tim pengamat hilal di bawah koordinasi KOMINFO - ITB di Indonesia merupakan pengamatan dengan bantuan alat, tidak murni pengamatan dengan mata bugil. Namun sebelumnya pengamatan oleh astronom lainnya yang tergabung dalam tim KOMINFO - ITB di Indonesia Timur di Kupang tidak berhasil melihat citra hilal melalui teleskop. Data dan pengalaman itu menjadi penting untuk dikaji secara teoritis.

Selama ini kalendar Islam di Indonesia diupayakan lebih dekat dengan hasil rukyatul hilal, namun hal itu tidak mudah. Perlu adanya pembaharuan sehingga kriteria visibilitas hilal bisa menjadi lebih mendekatkan fenomena realitas visibilitas hilal. Perlunya melakukan pemikirkan untuk mensinergikan ayat – ayat  al Qur’an yang telah memberikan direction atau arah, al Hadist juga telah memberikan landasan operasional dan ilmu pengetahuan tentang hilal akan memberi kesempurnaan tentang hilal, bukan mengkonfrontasikan satu dengan lainnya. Melalui semangat penyatuan kalendar Islam tersebut diharapkan akan tercapai suasana pencerahan tentang konsep penyatuan calendar Islam.

Semangat penyatuan di atas akan sangat sulit terealisasi tanpa adanya bulir - bulir KESEPAKATAN Umat Islam di Indonesia dalam melangkah menuju penyatuan calendar Islam.

Apa yang perlu didiskusikan dan disepakati ?

(1)  Kriteria visibilitas hilal yang handal dan presisi untuk dipergunakan sebagai acuan kesatuan langkah umat Islam Indonesia

(2)  Penyusunan kalendar Hijriah berdasarkan kriteria visibilitas hilal yang handal dan teruji untuk diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia.

(3)  Mekanisme penetapan awal bulan Hijriah (Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah) menggunakan cara Hisab dan Rukyat, murni dengan rukyat saja atau murni dengan hisab saja.

(4)  Pelaksanaan rukyatul hilal tak terbatas pada penetapan awal bulan untuk tiga bulan Islam.  

(5)  Kewenangan dan mekanisme dalam menetapkan awal Bulan Islam.

(6)  Persiapan melangkah untuk penyatuan kalendar Islam Internasional. Perlunya ketersediaan SDM dan pendidikan.

Sosialisasi dalam skala yang lebih luas perlu dilakukan secara terus menerus antar generasi oleh semua komponen umat Islam agar berbagai kesepakatan dan persoalan yang berkaitan dengan calendar Islam bisa diusahakan menjadi pengetahuan umum umat Islam Indonesia . ***

1. KK Astronomi FMIPA ITB


Majalah Astronomi - 2010

Majalah Astronomi diterbitkan dalam edisi cetak dan versi online.

Untuk berlangganan edisi cetak dan informasi lainnya, hubungi kamii Majalah Astronomi