Pada tanggal 19 September 2009 secara umum di wilayah Indonesia Bulan terbenam beberapa menit setelah Matahari terbenam. Di Pelabuhan Ratu misalnya pada tanggal 19 September 2009 Bulan terbenam pada jam 18:17 wib dan Matahari terbenam 26 menit sebelumnya yaitu pada jam 17:51 wib. Ijtimak berlangsung 16 jam 07 menit sebelum Matahari terbenam atau 16 jam 33 menit sebelum Bulan terbenam, (ijtimak jam 01:44 wib dan Matahari terbenam jam 17:51 wib). Pada tanggal 19 September 2009 tinggi Bulan mencapai 5 derajat 22 menit pada saat Matahari terbenam jam 17:51 wib dan luas sabit Bulan hampir mencapai 1%, sedang pada tanggal 20 September 2009 tinggi Bulan menjadi 17 derajat 41 menit (lebih dari 15 derajat) dan luas sabit bulan telah mencapai 4%.
Pemburu hilal di kota Semarang berhasil memperoleh citra hilal awal Syawal 1430 H pada tanggal 19 September 2009 dengan teleskop dan kamera CCD. Usia sabit Bulan pada waktu Matahari terbenam sudah mencapai 16 jam dari waktu ijtimak. Pengamatan hilal termuda mempunyai usia 15 jam 33 menit. Berarti Hilal awal Syawal 1430 H (dengan usia 16 jam 07 menit) juga merupakan kandidat hilal muda dengan usia lebih tua hampir sejam dari umur Hilal termuda (Pengamatan Pierce: 25 Februari 1990, pertama terlihat jam 23:55 UT) di kawasan Indonesia. Jadi kesimpulan hilal awal Syawal 1430 H walaupun sulit masih mempunyai kemungkinan untuk bisa dirukyat dari wilayah Indonesia. Bulan mempunyai posisi beda deklinasi lebih dari 5 derajat dari Matahari, jarak busur Bulan dan Matahari cukup besar dan berpeluang untuk bisa dirukyat. Namun realitas keberhasilan mendeteksi hilal awal Syawal 1430 H oleh astronom yang tergabung dalam tim pengamat hilal di bawah koordinasi KOMINFO - ITB di Indonesia merupakan pengamatan dengan bantuan alat, tidak murni pengamatan dengan mata bugil. Namun sebelumnya pengamatan oleh astronom lainnya yang tergabung dalam tim KOMINFO - ITB di Indonesia Timur di Kupang tidak berhasil melihat citra hilal melalui teleskop. Data dan pengalaman itu menjadi penting untuk dikaji secara teoritis.
Selama ini kalendar Islam di Indonesia diupayakan lebih dekat dengan hasil rukyatul hilal, namun hal itu tidak mudah. Perlu adanya pembaharuan sehingga kriteria visibilitas hilal bisa menjadi lebih mendekatkan fenomena realitas visibilitas hilal. Perlunya melakukan pemikirkan untuk mensinergikan ayat ayat al Qur’an yang telah memberikan direction atau arah, al Hadist juga telah memberikan landasan operasional dan ilmu pengetahuan tentang hilal akan memberi kesempurnaan tentang hilal, bukan mengkonfrontasikan satu dengan lainnya. Melalui semangat penyatuan kalendar Islam tersebut diharapkan akan tercapai suasana pencerahan tentang konsep penyatuan calendar Islam.
Semangat penyatuan di atas akan sangat sulit terealisasi tanpa adanya bulir - bulir KESEPAKATAN Umat Islam di Indonesia dalam melangkah menuju penyatuan calendar Islam.
Apa yang perlu didiskusikan dan disepakati ?
(1) Kriteria visibilitas hilal yang handal dan presisi untuk dipergunakan sebagai acuan kesatuan langkah umat Islam Indonesia
(2) Penyusunan kalendar Hijriah berdasarkan kriteria visibilitas hilal yang handal dan teruji untuk diberlakukan di seluruh wilayah Indonesia.
(3) Mekanisme penetapan awal bulan Hijriah (Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah) menggunakan cara Hisab dan Rukyat, murni dengan rukyat saja atau murni dengan hisab saja.
(4) Pelaksanaan rukyatul hilal tak terbatas pada penetapan awal bulan untuk tiga bulan Islam.
(5) Kewenangan dan mekanisme dalam menetapkan awal Bulan Islam.
(6) Persiapan melangkah untuk penyatuan kalendar Islam Internasional. Perlunya ketersediaan SDM dan pendidikan.
Sosialisasi dalam skala yang lebih luas perlu dilakukan secara terus menerus antar generasi oleh semua komponen umat Islam agar berbagai kesepakatan dan persoalan yang berkaitan dengan calendar Islam bisa diusahakan menjadi pengetahuan umum umat Islam
Indonesia
. ***
1. KK Astronomi FMIPA ITB