|
Mencari Planet di Luar Tata Surya
Oleh: Taufiq Hidayat

Begitu banyak bintang di langit malam, adakah di antara mereka yang memiliki planet? Jika memang ada, adakah di antara mereka yang mirip Bumi? Lalu, apakah mereka juga memiliki atmosfer? Apakah kehidupan juga mungkin terbentuk? Seperti apa? Mungkinkah ada kehidupan cerdas di bintang lain? Dan seterusnya. Mereka ini hanyalah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan yang terus mengganggu manusia selama ribuan tahun. Kita ingin tahu apakah kita sendirian di jagad raya ini…
Planet di Tata Surya
Coba lihat langit malam. Jika kita cukup beruntung berada di daerah yang gelap jauh dari lampu-lampu kota, di suatu malam yang cerah, kita akan melihat ribuan bintang bertebaran di langit. Sebagian besar bintang-bintang itu merupakan bintang-bintang redup, yang menghiasi langit dengan pemandangan yang menakjubkan. Bintang-bintang terang biasanya digunakan sebagai penanda rasi bintang. Namun, di antara kelap-kelip benda langit itu, berapa banyak yang bisa kita identifikasi sebagai planet?
Yang pertama mungkin Venus, si Bintang Timur atau Bintang Kejora, yang biasanya cukup mudah kita temukan di petang hari setelah Matahari terbenam atau di kala fajar. Selain itu, Jupiter biasanya mudah kita kenali sebagai benda yang sangat terang. Sepintas sangat mirip dengan bintang terang. Berbeda dengan Venus, Jupiter bisa kita temui di tengah malam. Setelah itu, Mars, yang mungkin cukup mudah kita kenali dengan warnanya yang kemerahan. Bagi yang cukup jeli, Saturnus pun relatif mudah kita temukan. Sementara itu, Merkurius, planet kecil yang paling dekat dengan Matahari, dapat dilihat di petang hari menjelang Matahari terbenam. Umumnya, agak sulit melihat planet ini tanpa alat bantu. Karena itu, dari malam ke malam, biasanya kita hanya menemukan tak lebih dari empat planet (tentu saja tidak termasuk Bumi kita sendiri, planet tempat kita tinggal). Jumlah ini sungguh sangat tidak sebanding dengan banyaknya bintang yang kita lihat itu.
Selama ribuan tahun, kita hanya mengenali 6 planet. Istilah planet diambil dari bahasa Yunani, yang berarti pengembara. Jika kita perhatikan baik-baik, posisi planet-planet tersebut memang berubah dari malam ke malam relatif terhadap bintang-bintang tetap (atau bintang-bintang yang letaknya jauh sekali). Itu sebabnya benda-benda tersebut dinamakan “si pengembara”. Planet pertama yang ditemukan di era modern adalah Uranus pada tahun 1781 oleh astronom William Herschel ketika dia melakukan survei langit menggunakan teleskop. Berikutnya, para astronom menunggu 65 tahun sampai ketika planet Neptunus ditemukan tahun 1846. Berbeda dengan penemuan Uranus, planet Neptunus dapat ditemukan berkat perhitungan gangguan gravitasi yang dilakukan oleh U. J. J. Le Verrier dan J. C. Adams. Akhirnya, Pluto ditemukan tahun 1930 oleh Clyde Tombaugh, menunggu 84 tahun setelah penemuan Neptunus. Dewasa ini, kita menyebut Pluto sebagai planet kerdil.
Semua planet yang telah kita sebutkan ini tidak lain adalah planet-planet tetangga kita, atau planet di Tata Surya, yakni planet-planet dalam keluarga Matahari. Matahari adalah sebuah bintang, yaitu sebuah benda langit panas, yang mampu membangkitkan energi melalui proses termonuklir. Sederhananya, planet berbeda dengan bintang dalam hal planet tidak menghasilkan energinya sendiri. Ukuran planet jauh lebih kecil daripada bintang dan merupakan benda dingin.
Mencari Planet di Bintang Lain
Jika bintang sedemikian banyak, mengapa tidak dengan planet? Lebih dari dua ribu tahun yang lalu, para filosof Yunani, seperti Epicurus dan Aristoteles, telah berspekulasi mengenai keberadaan planet-planet mirip dengan Bumi. Demikian pula, para astronom percaya, di antara 100 miliar bintang di galaksi kita, haruslah ada planet-planet. Jika mengamati Pluto saja sudah sedemikian sulitnya, lantas bagaimana dengan mencari planet di bintang lain? Bintang yang tampak hanya sebagai titik cahaya, kalaupun ada planet di antaranya, tentunya akan sangat sulit dideteksi.
Pada tahun 1943, Dirk Reuyl dan Erik Holmberg, dua astronom dari Observatorium McCormick (Virginia), menyimpulkan bahwa bintang ganda 70 Ophiuci kemungkinan memiliki sebuah planet yang bermassa sekitar 10 kali massa planet Jupiter. Kesimpulan ini didapatkan dari pengukuran fotografik selama 10 tahun. Berikutnya, Kaj Aage Strand, dari Observatorium Sproul (Pennsylvania) mengumumkan bahwa bintang 61 Cygni memiliki planet yang bermassa 16 kali massa Jupiter. Namun, tidak ada konfirmasi lanjutan dari pengamatan ini sehingga keberadaan planet luar-surya tersebut masih belum banyak menarik perhatian.
Piet van de Kamp adalah astronom lain yang sangat tekun mencari planet selama puluhan tahun. Melalui pengamatan yang sangat panjang, di tahun 1969, van de Kamp meyakini bahwa bintang Barnard memiliki dua planet dengan massa 0,8 dan 1,1 massa Jupiter, masing-masing dengan periode revolusi 12 dan 26 tahun. Namun, kalangan astronom masih meragukan hasil tersebut yang kemungkinan dipengaruhi oleh kesalahan dalam peralatan yang digunakan. Tahun 1992, astronom radio A. Wolszczan dan A. Frail mengumumkan penemuan planet-planet seukuran Bumi yang mengelilingi pulsar PSR B1257+12. Pada saat itu hal ini sangat mengejutkan karena bagaimana mungkin terdapat planet yang “selamat” mengelilingi pulsar yang pada dasarnya terbentuk akibat dari ledakan supernova.
|
|