Memburu Eksoplanet dari La Silla

Wawancara Majalah Astronomi dengan Dr.Johny Setiawan

Dr. Johny Setiawan adalah astronom kelahiran Jakarta tahun 1974 yang kini bekerja di Max Planck Insitute for Astronomy, Heidelberg, Jerman. Astronom yang masih sangat muda ini memimpin sebuah tim pemburu eksoplanet. dan mencatat prestasi gemilang Tim ini berhasil menemukan sebuah eksoplanet, HIP 13044 b, berjarak sekitar 2000 tahun cahaya dari Bumi. Penemuan ini penting karena diduga eksoplanet itu berasal dari luar galaksi Bima Sakti.

Di sela-sela kesibukannya sebagai peneliti ia masih sempat memberikan waktunya untuk melakukan wawancara dengan Majalah Astronomi. Berikut petikan wawancara Majalah Astronomi (MA) dengan Dr. Johny Setiawan.

Dr. Johny Setiawan

MA: Selamat sore Mas Johny.

Selamat sore

MA: Bagaimana awalnya dulu sehingga sekarang aktif memburu planet-planet di luar Tata Surya?

Pada awalnya saya diberi tugas oleh pembimbing saya untuk mempelajari variabilitas bintang raksasa yang merupakan topik program doktor (PhD) saya. Dari situ saya mendapat pengalaman bagaimana mencari planet ekstra surya, yang sampai sekarang saya tekuni.

MA: Instrumen apa saja yang digunakan untuk mendeteksi eksoplanet?

Sampai saat ini yang saya gunakan adalah FEROS (Fibre-Fed Extended Range Optical Spectrograph), yaitu spektrograf berresolusi 48000 yang dipasang di teleskop 2.2 meter di observatorium La Silla.

MA: Eksoplanet berada di luar Tata Surya yang berarti sangat jauh dari Bumi. Berapa rentang jarak eksoplanet terdekat dan terjauh yang telah ditemukan ?

Yang terdekat hanya beberapa tahun cahaya saja, sedangkan yang terjauh (saat ini) sekitar 21000 tahun cahaya.

MA: Ukuran planet jauh lebih kecil dibandingkan dengan ukuran bintang. Tentu sangat sulit untuk mendeteksi keberadaannya. Bisa dijelaskan secara sederhana bagaimana caranya para astronom mengetahui keberadaan suatu planet di luar Tata Surya?

Ada beberapa cara untuk mendeteksi planet ekstra surya. Namun, saat ini ada tiga metode yang banyak digunakan, karena instrumentasinya memang sudah ada. Ketiga metode tersebut adalah metode kecepatan radial, transit dan pengambilan gambar planet. Dengan metode kecepatan radial kita mengukur pergerakan bintang induk yang disebabkan oleh benda yang mengitarinya (planet atau bintang lain). Lain halnya dengan metode transit, dimana yang diukur adalah perubahan kecerlangan bintang karena ada benda yang lewat di sisi mukanya, seperti layaknya sebuah gerhana mini. Melalui teknik pengambilan gambar planet, kita bisa menemukan planet jika cahaya dari planet tersebut masih bisa terdeteksi.

MA: Dalam duapuluh tahun terakhir penelitian mengenai keberadaan eksoplanet berkembang dengan cepat.  Apakah ini merupakan tren baru dalam dunia astronomi?

Dunia astronomi telah memprediksi adanya planet-planet ekstra surya sejak tahun 1950-an. Namun pada kala itu, teknologinya belum memungkinkan dan masih terbatas. Baru pada awal 1990-an, penemuan planet bisa direalisasikan, yang tentunya merupakan kabar gembira bagi para ilmuwan. Jadi memang penelitian di bidang planet ekstra surya adalah tren saat ini dan juga mungkin di waktu mendatang, sampai ditemukannya planet-planet yang betul-betul serupa bumi.

MA: Seiring dengan meningkatnya kemampuan instrumen, penemuan eksoplanet dari hari ke hari semakin bertambah. Bisa diperkirakan berapa persen bintang yang memiliki system planet?

Menurut penelitian statistik, tergantung jenis bintang induknya, sekitar 5% bintang deret utama memiliki system planet. Namun ada hasil statistik yang berbeda untuk bintang raksasa.

MA: Pada umumnya seperti  apakah eksoplanet yang ditemukan, apakah berupa planet gas seperti Jupiter ataukah planet berbatu seperti Bumi dan Mars?

Saat ini yang paling banyak ditemukan adalah planet gas raksasa. Untuk planet batuan (rocky planet) peralatan yang ada belum banyak yang bisa digunakan. Namun saya yakin di tahun-tahun mendatang planet batuan akan banyak sekali ditemukan.

MA: Dari seluruh eksoplanet yang telah ditemukan, adakah yang mengelilingi bintang serupa Matahari?

Sebagian besar planet ekstra surya yang ditemukan adalah mengitari bintang-bintang yang serupa dengan Matahari.

MA: Selama ini setahu kami mas Johny mencari planet di bintang-bintang yang bukan di Deret Utama. Apakah bisa dijelaskan maksudnya?

Tujuan studi saya adalah untuk melengkapi survey yang ada (pencarian planet di bintang deret utama). Jadi, kita bisa mendapatkan gambaran lengkap proses perjalanan sebuah sistem planet, dari tahap permulaan sampai tahap terakhir. Ini bisa memberikan gambaran alur kehidupan tata-surya kita dari mula sampai berakhir.

MA: Apakah tata bintang – bila boleh disebut demikian – dimana eksoplanet menjadi anggotanya umumnya terdiri dari satu bintang dengan satu planet ataukah satu bintang dengan beberapa planet seperti halnya Tata Surya kita?

Bukan tata bintang, namun disebut “planetary system” (system planet dan bintang induknya). Biasanya ada beberapa planet dengan satu bintang induk, yang artinya mirip dengan tata surya kita.

MA: Pertanyaan yang selalu diajukan orang adalah apakah ada kehidupan di luar sana. Tanda apakah yang bisa dideteksi untuk mengetahui eksoplanet mempunyai peluang mendukung kehidupan? Adakah eksoplanet dengan tanda-tanda mampu mendukung kehidupan?

Jika kandungan atmosfirnya mirip dengan atmosfir di bumi, kemungkinan besar ada tanda-tanda yang menunjang kehidupan. Kandungan atmosfir bisa dianalisa melalui spectrum cahaya dari planet tersebut. Yang bisa diartikan menunjang kehidupan adalah adanya gas metana, air, ozon, dsb di atmosfir planet tersebut.

MA: Bagaimana rasanya bekerja di observatorium besar seperti di ESO?

Secara resmi saya bekerja di Max-Planck-Institute for Astronomy, bukan European Southern Observatory (ESO). Namun saya selalu melakukan pengamatan di ESO Chile sejak 1999. Jadi, saya memang sudah biasa kesana dan sudah merasa seperti di rumah sendiri. Oleh sebab itu, saya merasa nyaman di sana dan senang sekali setiap kali harus melakukan pengamatan dengan teleskop di Chile.

MA: Selain mencari planet, apakah mas Johny juga punya hobi yang lain? Ataukah astronom itu hanya melihat bintang saja dan tidak melakukan hal lainnya?

Hobi saya bermacam-macam, olahraga, memasak, belajar bidang apa saja yang menarik. Bahkan sejak 4 semester saya kuliah lagi, yaitu hukum dan bisnis. Selain itu belajar bahasa asing. Seorang astronom tidak hanya melakukan pengamatan, namun juga harus menganalisa data dan wajin mempublikasikan hasil penelitiannya kepada masyarakat. Ini merupakan kewajiban karena sebagian besar dana yang diperoleh adalah dari pajak negara. Selaini itu didukung oleh minat masyarakat yang sangat besar.

MA: Oya, kami dengar mas Johny menguasai beberapa (5) bahasa. Bagaimana caranya supaya bisa fasih beberapa bahasa seperti itu?

Sebenarnya saya hanya fasih 3 bahasa (Inggris, Jerman, Indonesia), namun 2 bahasa lainnya (Spanyol dan Perancis) bisa dikatakan cukup baik untuk berkomunikasi lisan. Saya memang cukup antusias belajar bahasa asing, ini juga ditunjang oleh media dan masyarakat disini yang memang gemar belajar bahasa.

MA: Jika ada yang tertarik untuk kuliah di astronomi, apa pesan mas Johny untuk mereka?

Astronomi adalah bidang yang sangat menarik dan memiliki prestige tinggi. Saya harap generasi muda Indonesia yang tertarik dengan astronomi dapat menyalurkan minatnya secara professional di perguruan tinggi. Kelak mereka akan berhasil dalam riset di bidang astronomi dan bahkan bisa menjadi terkenal di dunia internasional. ****


Majalah Astronomi - 2011

Majalah Astronomi diterbitkan dalam edisi cetak dan versi online.

Untuk berlangganan edisi cetak dan informasi lainnya, hubungi kamii Majalah Astronomi